Musibah Membawa Berkah
Kontemplasi akhir tahun Hijrah
By: irvan Hilmi
Saat itu keluarga kami masih dalam suasana berkabung, karena nenek tercinta meninggal dunia, hari Kamis tanggal 18 Desember 2008, jam 10.30. Ta’ziyah dan ucapan belasungkawa silih berganti keluar dari ketulusan hati para peziarah. Tanpa harus menunggu lebih lama, jam satu lebih tiga puluh menit, penguburan jenazah sudah selesai dilaksanakan.
Bagi sebahagian orang hal ini mungkin tidak lazim, karena sudah terbiasa jika ada yang meninggal, jenazah disemayamkan terlebih dahulu di rumah duka sambil menunggu sanak saudara yang jauh berkesempatan bertemu dengan jenazah sebelum diberangkatkan ke maqbarah (pemakaman) untuk dikuburkan. Namun kami sekeluarga sudah berkomitmen sebelumnya bahwa apabila nenek meninggal, tidak usah terlalu lama menunggu dan agar segera dimakamkan. Konsekuensinya, sebagian besar pelayat terutama keluarga saya yang tinggal jauh dari kampung halaman dan tetangga dekat lainnya banyak yang melakukan shalat jenazah di atas kuburan nenek kami. Namun, bagi kami hal itu lebih baik daripada harus menangguhkan pemakaman hanya karena alasan menunggu saudara yang lain, terlebih lagi sekarang berada pada musim penghujan. Baca selebihnya »