<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>serba-serbi irvan</title>
	<atom:link href="http://abuagyal.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abuagyal.wordpress.com</link>
	<description>daripada ngahuleng, mending ng-blog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Dec 2008 03:41:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abuagyal.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>serba-serbi irvan</title>
		<link>http://abuagyal.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abuagyal.wordpress.com/osd.xml" title="serba-serbi irvan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abuagyal.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Musibah Membawa Berkah</title>
		<link>http://abuagyal.wordpress.com/2008/12/21/musibah-membawa-berkah/</link>
		<comments>http://abuagyal.wordpress.com/2008/12/21/musibah-membawa-berkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 23:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuagyal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuagyal.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Musibah Membawa Berkah Kontemplasi akhir tahun Hijrah By: irvan Hilmi Saat itu keluarga kami masih dalam suasana berkabung, karena nenek tercinta meninggal dunia, hari Kamis tanggal 18 Desember 2008, jam 10.30. Ta’ziyah dan ucapan belasungkawa silih berganti keluar dari ketulusan hati para peziarah. Tanpa harus menunggu lebih lama, jam satu lebih tiga puluh menit, penguburan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuagyal.wordpress.com&amp;blog=5096672&amp;post=37&amp;subd=abuagyal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Musibah Membawa Berkah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:150%;"><em>Kontemplasi akhir tahun Hijrah</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:150%;" align="center"><em>By: irvan Hilmi</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Saat itu keluarga kami masih dalam suasana berkabung, karena nenek tercinta meninggal dunia, hari Kamis tanggal 18 Desember 2008, jam 10.30. Ta’ziyah dan ucapan belasungkawa silih berganti<span> </span>keluar dari ketulusan hati para peziarah. Tanpa harus menunggu lebih lama, jam satu lebih tiga puluh menit, penguburan jenazah sudah selesai dilaksanakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Bagi sebahagian orang hal ini mungkin tidak lazim, karena sudah terbiasa jika ada yang meninggal, jenazah disemayamkan terlebih dahulu di rumah duka sambil menunggu sanak saudara yang jauh berkesempatan bertemu dengan jenazah sebelum diberangkatkan ke <em>maqbarah</em> (pemakaman) untuk dikuburkan. Namun kami sekeluarga sudah berkomitmen sebelumnya bahwa apabila nenek meninggal, tidak usah terlalu lama menunggu dan agar segera dimakamkan. Konsekuensinya, sebagian besar pelayat terutama keluarga saya yang tinggal jauh dari kampung halaman dan tetangga dekat lainnya banyak yang melakukan shalat jenazah di atas kuburan nenek kami. Namun, bagi kami hal itu lebih baik daripada harus menangguhkan pemakaman hanya karena alasan menunggu saudara yang lain, terlebih lagi sekarang berada pada musim penghujan.<span id="more-37"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Pada keesokan harinya, yaitu hari Jumat, tepat jam dua siang, kami kedatangan pelayat yang termasuk keluarga dekat kami, tapi agak spesial, karena beliau juga adalah seorang ulama yang cukup dikenal, sekaligus sebagai kakek dan guru saya ketika mondok dahulu. Beliau adalah KH. Irfan Helmy, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis. Kedatangannya yang sangat mendadak cukup membuat kami kalang kabut, terutama saya, karena sejak lama saya tidak sowan ke rumahnya, sejak hari Raya Idul Fitri tahun sebelumnya, saya tidak sempat bertemu dengan beliau.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Seperti biasa, jika ayah saya bertemu dengan beliau selalu terjadi obrolan yang menarik, dan selalu membuat saya terpaku dan menjadi pendengar yang baik. Mulai permasalahan pondok, isu-isu keislaman, kedaerahan, manaqib para ulama dan solihin, manaqib kitab-kitab pesantren, dan tentu saja sebagai sanak saudara selalu ada pembicaraan <em>“pancakaki”</em>. Di akhir pembicaraan beliau berpesan pada saya,<em>”cep, ayeuna mah aya apa, engke mah tos teu aya, bade kumaha neraskeun pasantren, kedah encep anu neraskeun tapak lacak sepuh teh !”</em> Seketika hati saya tertegun, memikirkan apa yang diucapakan oleh guru saya. Sedemikian jauhkah saya lalai tentang tugas yang harus dipikul di pundak saya? Bukankah pesantren bukan tanggung jawab saya seorang ? bukankan banyak yang lainnya ? beribu tanya tak mendapat jawaban, sampai akhirnya saya berpikir, inikah sebuah kepercayaan ?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Di akhir pembicaraan beliau meminta saya untuk mengantarkannya ke makam nenek kami. “Ini kesempatan bagi saya untuk belajar dari beliau tentang tatacara ta’ziah dan ziarah ke maqbaroh,” gumam saya. Tanpa pikir panjang, dengan penuh kesigapan saya segera menyodorkan tangan untuk membantu beliau berdiri dan menuntun langkah menuju<em> maqbarah</em>, karena sebelumnya hujan mendera sangat lebat membuat sebagian permukaan tanah becek dan agak licin.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Saat tiba di pintu gerbang maqbarah, kalimat-kalimat yang saya kenal meluncur deras dari mulut beliau, <em>assalmu’alaikum ‘ala ahli diyar minal mu’minin….</em>, <em>cep, dipailh mana kuburanana?</em>”, tanya beliau. Saya pun menjawabnya, sambil menunjuk ke arah gundukan tanah yang masih merah, dengan nisan bata merah dan dua potongan pohon yang menancap di gundukan tanah. Sejenak beliau mempersiapkan diri untuk melakukan shalat di atas kuburan yang masih merah dengan makmum sopir beliau. <em>Allahu Akbar</em>, tangan diangkat untuk <em>takbiratul ihram </em>dan seterusnya, dalam setiap takbir beliau mengangkat tangannya sampai takbir keempat dan salam.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Saya dulu pernah shalat jenazah di belakang beliau. Saat itu, beliau hanya mengangkat tangan ketika <em>takbiratul ihram</em> saja, di takbir beriktunya, tangannya tidak di angkat sampai takbir keempat dan diakhiri dengan salam. Saya langsung mellihat kebesaran seorang ulama yang sangat toleran seperti beliau, saya tahu beliau sejak lama, sejak saya mondok sampai sekarang. Itulah yang selalu beliau tunjukkan, sikap yang toleran dan ilmu yang luas, tanpa dikatakan tapi beliau menunjukkan dengan sikap dan tauladan, bagaimana seharusnya seorang muslim menghargai yang lainnya. Pernah suatu kali beliau menjadi Imam Shalat Shubuh. Diantara makmum ada tamu yang sangat beliu hormati, maka beliau melakukan qunut dengan mengangkat tangan, padahal biasanya di pondok tidak terbiasa qunut dengan mengangkat tangan, demi menghormati tamu yang mengangkat tangan ketika qunut shubuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Usai melaksanakan shalat, beliu bertanya, <em>“cep ari kuburan ajengan Ishak Farid, dimana ?</em> Tanpa banyak tanya, saya langsung menunjukkan arahnya, sambil menunjukkan kuburan lain yang beliau tanyakan, KH. Onang (adik kandung KH Ishak Farid) dan KH Adang Sofyan (menantu KH Ishak Farid). Beliau berdoa sejenak di ketiga kuburan tersebut. Sambil berdiri tanpa mengangkat tangan, beliau ucapkan doa-doa, yang saya sendiri tidak begitu jelas mendengarnya. Satu persatu kuburan dihampirinya, mulai dari kuburan KH. Ishak Farid, KH. Onang dan terakhir KH Adang Sofyan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Saya mengira prosesi telah usai, dengan sigap saya sodorkan tangan untuk menuntunnya pulang. Akan tetapi tiba-tiba beliau kembali ke arah <em>maqbarah</em>, seakan belum puas untuk berziarah.<span> </span>Kemudian menyuruh saya untuk memetik pohon yang beliau puji kekuatan pohon tersebut. <em>“sae ieu tangkal teh, meni kiat pisan”,</em> ucapnya. Saya segera lari untuk mencarikan pisau pemotong, karena saya berpikir pohon tersebut untuk diambil sebagai benih untuk ditanam di tempat beliau. Akan tetapi, beliau menyuruh supirnya untuk memotongkan untuknya dengan tangan. Sang Sopir memotong pohon sebanyak tiga potong, dan tanpa saya duga sebelumnya beliau menyimpan tiga potongan pohon tersebut di atas tiga kuburan yang beliau doakan tadi, masing-masing satu potong.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Di perjalanan pulang dari <em>maqbarah</em>, beliau berpesan, <em>“cep sadinten teh kedah limapuluh lembar!” </em>Tentang apa lima puluh lembar itu?”, pikirku. Lalu beliau melanjutkan pembicaraannya, <em>“KH Ishak Farid itu seorang ulama besar dengan kemampuan komplit danseorang kutu buku. Tipe Kyai seperti beliau <span> </span>sangat jarang ditemukan saat ini, jadi kamu harus punya target membaca sehari minimal lima puluh lembar”</em>(terj.). Saya terkesiap, seraya menawar, <em>“kumaha saupami puluh halaman ?”</em>. sambil tersenyum beliau menepuk bahu saya, <em>“sok atuh teu nanaon, lima puluh halaman oge asal diprogram rutin”.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Betapa berat beban menjadi seorang ahli ilmu, terbayangkan dalam benak saya, betapa hebatnya para ulama yang karangan dan kitabnya kita baca saat ini. Berapa ratus halaman yang mereka baca setiap hari, berapa liter tinta yang mereka guratkan diatas kertas ? Berapa ribu, melalui tangannya,orang-orang menjadi ajengan atau profesi sosial lainnya. Sungguh jauh jarak antara mereka dengan saya dan kita semua!!!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">Belum rasa terkesiap usai, saya ditanya kembali, “<em>kitab naon anu nuju dibaca baca ayeuna? Upami teu aya kitabna, nyuhunkeun we ka aki, ka Darussalam! Soka, hoyong kitab naon? Al-Manar, Ath-Thobari, Al-Kasysyaf…”</em> dan kitab-kitab lainnya ditawarkan kepada saya. Saya hanya bisa tersenyum malu, tak bisa berkata-kata, karena selama ini saya tidak banyak membaca. Di akhir pertemuan terbersit harapan melalui doa yang belaiu panjatkan, <em>“sok cep ku aki dido’akeun, sing janten kyai anu cerdas”.</em> “Amin..Amin…Amin… , terucap sepontan dari bibir saya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;"><strong><em>Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, lingkungan yang bersahabat, isteri dan keturunan yang hebat, kehidupan yang baik di dunia dan hingga akhirat, Amin….! </em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:right;text-indent:42.55pt;line-height:150%;" align="right"><em> </em></p>
<p><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Awipari, 20 Desember 2008</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:42.55pt;line-height:150%;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuagyal.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuagyal.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuagyal.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuagyal.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuagyal.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuagyal.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuagyal.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuagyal.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuagyal.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuagyal.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuagyal.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuagyal.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuagyal.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuagyal.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuagyal.wordpress.com&amp;blog=5096672&amp;post=37&amp;subd=abuagyal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuagyal.wordpress.com/2008/12/21/musibah-membawa-berkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5054b47334e9a2e32f3717b627a324b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuagyal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENYEMPURNAKAN KEMENANGAN  DI HARI FITRI</title>
		<link>http://abuagyal.wordpress.com/2008/10/07/menyempurnakan-kemenangan-di-hari-fitri/</link>
		<comments>http://abuagyal.wordpress.com/2008/10/07/menyempurnakan-kemenangan-di-hari-fitri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 09:53:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuagyal</dc:creator>
				<category><![CDATA[khutbah idul fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuagyal.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Alahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Segala puji hak Allah yang senantiasa mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani hamba-Nya, sehingga menjadikan bulan Ramadhan bulan penuh rahmat, maghfirah dan terbebas dari api neraka. Shalawat dan Salam mudah-mudahan senantiasa tercurah limpahkan kepada panutan terbaik dan contoh bagi seluruh alam, Nabi Muhammad Saw. Kepada kelaurganya, para shahabat dan seluruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuagyal.wordpress.com&amp;blog=5096672&amp;post=8&amp;subd=abuagyal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                               &lt;![endif]--><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Alahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Segala puji hak Allah yang senantiasa mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani hamba-Nya, sehingga menjadikan bulan Ramadhan bulan penuh rahmat, maghfirah dan terbebas dari api neraka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Shalawat dan Salam mudah-mudahan senantiasa tercurah limpahkan kepada panutan terbaik dan contoh bagi seluruh alam, Nabi Muhammad Saw. Kepada kelaurganya, para shahabat dan seluruh pengikutnya sampai hari pembalasan.</span><span id="more-8"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Hadirin Rahimakumullah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Merupakan hak asasi setiap orang untuk berbahagia, bersenang-senang dan becengkerama dengan penuh kegembiraan disaat usainya perhelatan yang penuh tantangan. Dalam suatu perayaan Shahabat Abu Bakar pernah melarang kesenangan orang-orang ketika membunyikan seruling pesta, “pantaskah kita bersenang-senang dengan seruling syaitan sementara di hadapan kita baginda Rasulullah Saw? Dengan bijak Nabi pun menyela, “Biarkan wahai Abu Bakar hari ini adalah hari raya kita semua !”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Keteladanan Rasulullah yang tiada tara menggambarkan dengan jelas dan terang kepada umatnya, betapa kita sepenuhnya punya hak untuk bersenang-senang dan bergembira ria pada saat perayaan yang dilegitimasi oleh Islam, seperti hari ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Merayakan kemenangan dan kebahagiaan pada Hari raya idul fitri seperti saat ini adalah salah satu perayaan yang dilegitimasi oleh agama Islam. Kita berhak mengekspresikan kebahagiaan dengan berbagai cara, antara lain dengan memiliki baju baru, wewangian baru, sandal dan sepatu baru dan segala aksesoris hidup yang serba baru. Tak ketinggalan sang Nabi tercinta menganjurkan para orang tua untuk membelikan baju dan pakaian baru untuk anak-anaknya. Bahkan beliau sendiri memberikan pakaian yang tidak terbeli oleh seorang anak yatim.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Pada konteks seperti inilah kita harus memahami betapa Maha Adil Allah ketika berfirman:</span></p>
<p class="MsoBlockText"><span lang="IN">“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yangn diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (QS Ali Imran: 14)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Allahu Akbar, Alahu Akbar, Allahu Akbar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Hadirin jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Namun alangkah ruginya jikalau kita membatasi diri hanya sekedar menikmati kesenangan dunia yang sesaat. Meskipun serba baru yang kita pakai, serba enak yang kita makan dan serba ada persediaan, semua itu akan lenyap dan hanya sesaat. Kenikmatan makan akan hilang jika telah lewat di kerongkongan, keindahan baju akan sirna jika telah dipakai demikian halnya dengan yang lain. Di hari yang fitri ini, adalah saatnya kita menyadari betapapun keserba baruan kita dalam hal keduniaan tapi pada akhirnya akan sirna dan berganti menjadi tidak baru karena melapuk dan lekang. Alah Swt memberikan tawaran yang menjanjikan dan kita yakin bahwa Allah tidak pernah menyalahi janjinya.</span></p>
<p class="MsoBlockText"><span lang="IN">“Katakanlah (wahai Muhammad): Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa kepada Allah, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan mereke dikaruniai isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah; Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Di hari yang fitri penuh kesuciaan saat ini, sepantasnya kita meraba diri. Adakah hal yang baru dalam sikap kita yang lebih baik? adakah hal hal baru dalam ibadah kita yang mendorong<span> </span>lebih tekun dan giat? adakah hal yang baru dalam pengelolaan harta kita, sehingga kita senang bersedekah? adakah yang yang baru dalam diri kita sehingga kita pandai bersyukur nikmat dan sabar terhadap cobaan?. Tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kita hanya bisa menghela nafas, mengurut dada dan mengernyitkan kening. Ya Allah pantaskan hari raya ini kami rayakan dengan penuh suka cita, sementara aktifitas ibadah kami tidak bertambah kuantitas apalagi kualitasnya? Ya Allah pantaskah kami memamerkan hal yang serba baru, sementara amal baik kami tidak pernah bertambah? Ya Allah pantaskah kami memiliki harta yang melimpah dan rizqi yang banyak sementara hati kami makin terpenjara dari sekedar menafkahkan kewajiban zakat fitrah apalagi sedekah lainnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Allahu Akbar, Allahhu Akbar, Allahu Akbar walillahi al-hamd.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Hadirin rahimakumullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Satu bulan penuh kita semua telah melaksanakan kewajiban yang mulia, yaitu shaum. Satu bulan kita lalui bulan yang penuh berkah, rahmat, maghfirah dan pembebasan dari neraka. Kita telah lewatkan bulan yang pada hari itu ada hari yang lebih baik dari seribu bulan! Pada bulan Ramadhan kita telah melakukan berbagai hal yang tidak lazim kita lakukan di bulan-bulan biasa. Kita bertanya pada diri kita, mungkinkah kita makan secara teratur pada bulan berikutnya seperti halnya di bulan Ramadhan? Mungkinkah setiap malam kita bangun seperti halnya yang biasa kita laksanakan di bulan Ramadhan ? mungkinkah kita mengkhatamkan al-quran dalam satu bulan, pada bulan-bulan selain Ramadhan? Mungkinkah kita membiasakan menahan diri dan hawa nafsu di luar Ramadhan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Di berbagai siaran televisi kita menyaksikan betapa gemarnya orang-orang bersedekah, berbagi rasa dengan orang-orang yang tidak mampu, berbuka puasa bersama, sahur bersama, masjid penuh dengan orang-orang yang bertarawih dan beri’tikaf, ceramah-ceramah keagamaan disiarkan dan diperdengarkan hampir setiap saat ! sungguh kemuliaan Ramadhan tiada tara dan tiada bandingannya. Permasalahnnya, pantaskah kita merayakan kemenangan, dengan usainya Ramadhan yang begitu berkah bagi semua orang tanpa tergapai segenggam keberkahan, setetes kemuliaan di dalam jiwa kita? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Keagungan Ramadhan sungguh tidak terperikan! Perhatikanlah apa yang disabdakan Rasulllah Saw: “Kalau saja manusia tahu apa yang ada di bulan Ramadhan tentu mereka berharap sepanjang tahun adalah Ramadhan!”. Allahu Akbar! Di saat orang-orang bergembira dengan Hari Raya Iedul Fitri, Rasulullah justeru bersimbah air mata dengan penuh harap bermunajat, “Ya Allah sampaikanlah umurku pada Ramadhan berikutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahi al-hamd!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Hadirin rahimakumullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Kita di sini tidak bermaksud menghalangi kebahagian kita dengan hari kemenangan yang fitri ini atau mengurangi rasa gembira kita dengan kesenangan dunia kita. Bahkan justeru dengan menyadari hal-hal seperti di atas kita hendak menyempurnkan kemenangan dan kebahagiaan kita, agar kebahagiaan kita tidak semata-mata karena telah melaksanakan tugas dan kewajiban shaum yang diembel-embeli dengan bagusnya baju yang kita pakai, harta yang kita punya dan melimpahnya rizqi yang kita perolah semata, tanpa sedikitpun tetesan berkah, rahmat dan maghfirah dari Allah yang jauh lebih berharga bahkan tiada bandingannya. Itulah tujuan dari diwajibkannya shaum pada bulan Ramadhan, yaitu meraih derajat ketakwaan di sisi Allah Swt. Ketakwaan yang menjadi titian menuju keridhaan Allah di dunia dan akhirat. Sudah saatnya kita menyadari sejauhmana derajat ketakwaan kita kepada Allah melalui tarbiyah dan tempaan di bulan suci Ramadhan!? Sungguhpun demikian kita tidak berhak menyatakan bahwa kita sudah menggapai takwa melalui tempaan Ramadhan ini. Allah berfirman: </span></p>
<p class="MsoBlockText"><span lang="IN">“ &#8230; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”. (QS. An-Najm: 32)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Alih-alih meraih ketakwaan yang diharapakan, malah kecaman Allah yang kita dapatkan. Sebagaimana firman Allah ketika mengkhitab <em>Ahlul Kitab</em>, yang mengira telah berbuat kebajikan dan mereka senang dengan perbuatannya itu .</span></p>
<p class="MsoBlockText"><span lang="IN">“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan; janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa<span> </span>dan bagi mereka siksa yang pedih”. (QS. Ali Imran: 188).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Alahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahi al-hamd</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Hadirin jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Mari kita sempurnakan kemenangan di hari fitri ini dengan sama-sama mengingat Allah Swt, agar kita tidak terlena dengan perayaan kemenangan agar kita termasuk hamba-hamba Allah yang amalnya akan dilihat oleh Allah Swt.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Paling tidak ada lima sikap yang harus kita miliki dengan usainya pembelajaran yang kita peroleh di bulan Ramadhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Yang pertama</span></em></strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">; <strong><em>(Ash-Shabirin),</em></strong> kita belajar bagimana seharusnya kita bershabar. Di bulan Ramadhan yang baru saja kita lewati, kita belajar shabar dalam melaksanakan<span> </span>segala bentuk ketaatan dan menahan diri dari berbagai deraan dan cobaan. Kita bershabar untuk menahan diri tidak makan dan minum seharian, bershabar untuk tidak berkata kotor dan keji, bershabar untuk menahan keinginan dorongan biologis terhadap isteri, menahan pandangan dari yang tidak layak untuk dilihat, menahan kuping dari pendengaran yang tidak layak, menahan mulut dari ucapan tidak layak dan segala hal pada hari-hari biasa perbuatan-perbuatan tersebut kurang terkontrol. Karena kalau kita tidak shabar menjalankan semua itu, kita termasuk dalam sabda Nabi:</span></p>
<p class="MsoBlockText"><span lang="IN">“Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu keculai lapar dan dahaga”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Yang kedua</span></em></strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">; <strong><em>(Ash-Shadiqin),</em></strong> kita belajar bersikap jujur dan benar. Bagaimana tidak, sementara kita puasa tidak ada orang yang tahu bahwa sebenarnya kita tidak berpuasa. Seseorang mungkin saja mengaku dirinya berpuasa padahal secara sembunyi dia bisa saja makan dan minum tanpa sepengetahuan orang lain. Berbeda dengan amal ibadah yang lain, siapapun bisa memperlihatkan bukti amalnya. Akan tetapi berpuasa tidaklah demikian, sehingga pantaslah jika Allah berfirman dalam hadits qudsi:</span></p>
<p class="MsoBlockText"><span lang="IN">“Setiap amal anak adam (pahalanya akan kembali kepadanya, keculai shaum, sesungguhnya shuam itu adalah hakku dan akulah yang akan membalasnya. (Hal itu karena) dia (anak adam) membiarkan dirinya lapar karena Aku, membiarkan dirinya dahaga karena Aku , meninggalkan segala kelezatan krena Aku dan menjauhi isterinya karena Aku. (HR. Inu Khuzaimah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Yang ketiga; (al-Qanitin), </span></em></strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">kita belajar memelihara ketaatan dalam beribadah kepada Allah. Kita tidak bisa memungkiri betapa di bulan Ramadhan orang berduyun-duyun pergi ke masjid untuk melaksanakan <em>qiyamu ramadhan.</em> Setiap malam selama sebulan kita belajar bagaimana memelihara ketaatan kepada Allah, rumah-rumah ramai dengan alunan bacaan al-Quran, hampir seluruh aktifitas berisi siraman-siraman rohani yang mengajak kepada ketaatan kepada Allah Swt.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Yang keempat;(al-Munfiqin),</span></em></strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN"> pada Bulan Ramadhan hati kita menjadi tunduk dan jiwa kita mudah berempati kepada orang lain dengan menafkahkan sebagaian harta di jalan Allah. Berbagai kegiatan buka bersama diadakan, antara pejabat dengan rakyat, kaum kaya dan kaum papa semua menyatu dalam bingkai indahnya bersedekah di bulan Ramadhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Dan yang kelima;(al-Mustaghfirina bil Ashar),</span></em></strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN"> di bulan Ramadhan kita senantiasa bangun di malam hari meskipun hanya untuk makan sahur, tapi keberkahan Allah di waktu sahur menjadi saat-saat mustajab untuk memohon ampunan kepada Allah Swt.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Kelima hal inilah yang hendaknya kita jaga bukan hanya di bulan Ramadhan, tapi juga di bulan dan hari-hari di luar Ramadhan. Dan inilah yang dofirmankan oleh Allah Swt dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 15-16.</span></p>
<p class="MsoBlockText"><span lang="IN">Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Yaitu orang-orang yang berdoa’a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan periharalah kami dari siksa neraka”. Yaitu orang-orang yang sabar, yang benar, yang tatap taat, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah dan yang memohon ampun di waktu sahur”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahi al-hamd.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Hadirin Rahimakumullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Di bulan Ramadhan kita belajar bagaimana kita berempati terhadap orang lain. Kita belajar dari sifat Allah yang Tidak pernah makan tapi senantiasa memberi makan. Kita menahan diri untuk tidak makan dan minum tapi kita juga dianjurkan untuk banyak memberi makan dan minum. Kita belajar menahan diri untuk tidak membalas kejelekan orang lain dengan emosi sekaligus kita juga dibina untuk memberikan kebaikan kepada orang lain tanpa pandang bulu. Namun tentu pelajaran-pelajaran tersebut tidaklah mudah untuk kita laksanakan. Sebagai manusia normal kita sadar, kita pernah berbuka puasa dengan sepuas hati sebagai wujud balas dendam kita tidak makan dan minum di siang hari, kita juga pernah marah dan merasa malas untuk berbuat kebaikan kepada orang lain. Pada hari raya Iedul fitri yang suci dan penuh kemenangan ini, hendaklah kita bercermin dari Quran Surat An-Nashr.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 26.7pt .0001pt 45pt;"><em><span lang="IN">“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan ; dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong ; maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat”.</span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="IN">Mari kita sempurnakan kebahagiaan dan kemenangan di hari fitri ini dengan memperbanyak berdzikir, tasbih, tahmid takbir dan tahlil. Dan tidak lupa untuk memohon ampun kepada Allah Swt., karena pada hakikatnya Dia-lah Allah Swt yang memberikan kepada kita anugrah dan karunia, menyantuni kebutuhan kita dan membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Di sisi lain, sebagai sesama umat manusia, kemenangan kita hendaklah jangan dicederai dengan berbuat kesalahan kepada orang lain. Maka secara konteks <em>hablum minannas, </em>kita selayaknya saling memaafkan agar semakin mempererat tali silaturahim diantara kita, sebagaimana yang difirmankan Allah Swt, setelah kita diperintahkan untuk bertakwa, titah berikutnya adalah menjaga silaturahim.</span></p>
<p class="MsoBlockText"><span lang="IN">“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An-Nisa: 1).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:150%;"><span style="font-size:13pt;line-height:150%;" lang="IN">Sebagai umat beriman dan pengikut Rasulullah Saw, harapan yang pantas kita dambakan pada saat ini adalah mudah-mudahan amal ibadah kita diterima di sisi Allah. <strong><em>Taqabbalallahu Minna waminkum shiyamana washiyamakum, qiyamana waqiyamakum</em></strong>. Ya Allah sampaikanlah umur kami unutk meraih bulan yang penuh dengan rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api neraka, pada tahun berikutnya. <em>Amin Ya Rabbal Alamin</em>.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuagyal.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuagyal.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuagyal.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuagyal.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuagyal.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuagyal.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuagyal.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuagyal.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuagyal.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuagyal.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuagyal.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuagyal.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuagyal.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuagyal.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuagyal.wordpress.com&amp;blog=5096672&amp;post=8&amp;subd=abuagyal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuagyal.wordpress.com/2008/10/07/menyempurnakan-kemenangan-di-hari-fitri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5054b47334e9a2e32f3717b627a324b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuagyal</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
